Jumat, 03 Mei 2013

Asuhan keperawatan pada pasien dengan GEA


A.    Definisi
Demam adalah meningkatnya temperatur tubuh secara abnormal. Sedangkan bakteremia adalah adanya bakteri dalam darah.

B.    Patofisiologi
•    Exogenous dan virogens (seperti ; bakteri, virus, komplek antigen-antibodi) akan menstimulasi sel host inflamasi (seperti; makrofag, sel PMN) yang memproduksi endogenous pyrogen (Eps). Interleukin –1 sebagai prototypical EP. Eps menyebabkan endotelium hipotalamus meningkatkan prostaglandin dan neurotransmiter, kemudian beraksi dengan neuron preoptik di hipotalamus anterior dengan memproduksi peningkatan “set point”. Mekanisme tubuh secara fisiologi mengalami (vasokonstriksi perifer, menggigil), dan perilaku ingin berpakaian yang tebal-tebal atau ingin diselimuti dan minum air hangat.
•    Demam sering kali dikaitkan dengan adanya gangguan pada “set point” hipotalamus oleh karena infeksi, alergi, endotoxin, atau tumor.
Exgenous pyrogens
(seperti; bakteri, virus, kompleks antigen-antibodi)

Sel host inflamasi
(seperti; makrofag, netrofil, sel kupper, makrofag splenic dan alveolar) 

Memproduksi endogenous pyrogens
(Interleukin –1, Interleukin –6, faktor nekrosis tumor, dan cytokin pyrogenic lain)

Sintesis PGE2 dalam hipotalamus

Pusat termuregulator
(neuron preoptik pada hipotalamus anterior)

Meningkatkan “thermostat, set point”

Perubahan fisiologi dan tingkah laku

Demam
C.    Etiologi
•    Yang sering; infeksi saluran nafas atas, otitis media, sinusitis, bronchiolitis, pneumonia, pharyngitis, abces gigi, gingivostomatitis, gastroenteritis, infeksi aluran kenih, pyelonefritis, meningitis, bakteremia, reaksi imun, neoplasma, osteomyelitis.

D.    Manifestasi Klinis
•    Demam
•    Temperatur 38,9 celsius – 40,6 celsius
•    Menggigil
•    Berkeringat
•    Gelisah atau lethargy
•    Tidak ada napsu makan
•    Nadi ada napsu makan
•    Nadi dan pernafasan cepat
•    Petechiae

E.    Pemeriksaan Diagnosis
•    Pemerikasaan fisik
•    Laboratorium; pemerikasaan darah rutin, kultur urine, dan kultur darah
•    Lumbal fungsi

F.    Penatalaksanaan Terapeutik
•    Antipiretik
•    Antibiotik intravena sesuai program
•    Hindari kompres alkohol dan air es
•    Hindari penggunaan aspirin karena potensial reye’s synrome

G.    Komplikasi
•    Kejang
•    Risiko persisten bakteremia
•    Risiko meningitis
•    Risiko ke arah keseriusan penyakit


BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada anak yang menderita observasi febris meliputi beberapa tahap :
1.    Pengkajian
A.    Pengumpulan Data
1.    Identitas penderita
Meliputi : mana, umur, jenis kelamin, agama, tanggal masuk rumah sakit, nama ayah / ibu, pekerjaan, pendidikan, penghasilan, alamat.
2.    Riwayat penyakit sekarang
Pada umumnya didapatkan peningkatan suhu tubuh  3-5 hari atau adanya masalah psikologis (rasa takut / cemas).
3.    Riwayat penyakit dahulu
Biasanya dikaitkan pada riwayat medis yang berhubungan dengan penyakit febris.
4.    Riwayat penyakit keluarga
Meliputi susunan keluarga yang mempunyai penyakit turunan atau menular yang pernah di derita oleh anggota pasien.

B.    Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1.    Pola persepsi dan tata laksan hidup sehat
Pada pola ini keadaan klien biasanya terjadi perubahan pada perawatan diri.
2.    Pola nutrisi dan metabolisme
Biasanya terjadi penurunan nafsu makan / tidak.
3.    Pola eliminasi
Pada pola ini bisa terjadi perubahan karena asupan yang kurang sehingg klien tidak bisa BAB / BAK secara normal.
4.    Pola istirahat tidur
Biasanya terjadi perubahan / gangguan pada pola tidur karena adanya rasa tidak nyaman yang berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh.
5.    Pola sensori dan kognitif
Tidak terjadi gangguan dan pada pola ini terkadang sebagian klien dapat mengetahuinya.


6.    Pola hubungan peran
Bisa terjadi hubungan yang baik / kekeluargaan dan tidak mengalami gangguan.
7.    Pola penanggulangan stres
Adanya keefektifan dalam mengalami masalah individu dan keluarga.
8.    Pola aktivitas
Didapatkan keterbatasan aktivitas karena peningkatan suhu tubuh.
9.    Pola reproduksi dan sexual
Pada pola ini reproduksi dan sexual tidak mengalami gangguan.
10.    Pola persepsi diri
Didapatkan adanya kecemasan, ketakutan dan perasaan tidak berdaya sehingga terjadi perubahan mekanisme.
11.    Pola tata nilai dan kepercayaan
Timbulnya distres spiritual.

C.    Pemeriksaan Fisik
-    Keadaan umum
Kesadaran (baik, gelisah, apatis / koma), GCS, TTV, BB dan TB.
-    Kulit, rambut, kuku
Turgor kulit (baik-buruk), tidak ada gangguan / kelainan.
-    Kepala dan leher
-    Mata
Biasanya mulai terlihat cowong atau tidak.
-    Telingga, hidung, tenggorokan dan mulut
-    Thorak dan abdomen
Tidak didapatkan adanya sesak, abdomen biasanya nyeri dan ada peningkatan bising usus.
-    Sistem respirasi
Biasanya fungsi pernafasan lebih cepat dan dalam.
-    Sistem kardiovaskuler
Pada kasus ini biasanya denyut pada nadi lebih cepat.
-    Sistem muskuloskeletal
Terjadi gangguan atau tidak.
-    Sistem pernafasan
Pada kasus ini biasanya kesadaran gelisah apatis/koma.

D.    Diagnosa Keperawatan
1.    Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan  proses infeksi.
2.    Kurang pengetahuan mengenai penyakitnya b/d kurang informasi.
3.    Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d nafsu makan menurun.
Diagnosa Keperawatan I
Peningkatan suhu tubuh b/d proses penyakitnya.
Tujuan        : kenaikan suhu tubuh dapat teratasi.
KH        : suhu tubuh dalam batas normal (36,5-37,5 C).
          tidak terjadi tanda-tanda hypertensi.
Rencana tindakan :
1.    Jelaskan pada kx dan keluarga tentang terjadinya peningkatansuhu tubh dari akibat-akibat dari suhu tubuh dan akibat-akibat dari suhu tubuh yang tinggi.
2.    Berikan kompres kompres dingin pada daerah axila.
3.    Anjurkan kx untuk menggunakan baju yang tipis dan longgar serta menyerap keringat.
4.    Obs. Gejala kordinal tiap 2 jam atau bilamana diperlukan.
5.    Anjurkan pada ibu Px untuk banyak minum air putih.
6.    Berikan kesempatan pada kx untuk beristirahat.
7.    Ciptakan suasana yang aman dan nyaman.
8.    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.
Rasional :
1.    Dengan penjelasan maka kx dan keluarga dapat diajak untuk bekerja sama dalam mengatasi mx tersebut.
2.    Daerah aksila banyak terdapat pembuluh darah dan saraf yang dapat mempengaruhi hipetalamus.
3.    Pakaian longgar dan tipis menimbulkan proses penguapan panas akan lebih cepat.
4.    Dapat diketahui perkembangan kondisi dan adanya kelainan secara dini.
5.    Minum air yang cukup dapat mengganti cairan yang hilang akibat penguapan yang meningkat.
6.    Istirahat dapat menurunkan metabolisme tubuh karena dengan peningkatan metabolisme dapat menimbulkan panas.
7.    Ketegangan dan kecemasan menimbulkan peningkatan metabolisme tubuh yang mempengaruhi hipetalamus yang berhubungan dengan stres adaptasi.
8.    Membantu mempercepat penurunan suhu tubuh.
Diagnosa Keperawatan II
Kurang pengetahuan mengenai penyakitnya b/d kurang informasi.
Tujuan    : rasa cemas berkurang atau hilang.
KH    : kx mampu mengungkapkan tentang proses penyakit dan perawatannya.
 Kx mampu mengidentifikasi faktor penyebab penyakit.
Rencana tindakan :
1.    Jelaskan pada klien tentang penyakit dan gejala-gejala dan perawatan yang akan dilakukan.
2.    Bantu kx untuk mengungkapkan perasaannya dan identifikasikan kecemasan.
3.    Alihkan perhatian kx dan melakukan aktifitas yang diperbolehkan.
4.    Pertahankan lingkungan yang tenang dan aman.

Diagnosa Keperawatan III
Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d nafsu makan menurun.
Tujuan : kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi, dapat menstabilkan berat badan secara bertahap.
KH    :  -  Kx dapat menghabiskan porsi yang disediakan.
-    BB meningkat.
Rencana tindakan :
1.    Jelaskan pada kx tentang pentingnya nutrisi dan akibat bila kekurangan nutrisi.
2.    Sajikan makanan dalam porsi kecil dan sering.
3.    Anjurkan pada kx untuk mengkonsumsi makanan tambahan tetapi yang tidak bertentangan dengan diet.
4.    Obs. Intake dan output dalam 24 jam.
5.    Hidangkan menu dalam keadaan hangat.
6.    Kolaborasi dengan tim dokter.
Rasional :
1.    Diharapkan kx dapat mengerti dan mau bekerja sama dalam pemberian askep.
2.    Rasa mual dan muntah dapat berkurang.
3.    Dapat menambah kebutuhan zat makanan.
4.    Mengatur makanan yang dimakan oleh kx dalam sehari, sehingga mempermudah dideteksi dini pemasukan yang adekuat.
5.    Diharapkan mampu merangsang nafsu makan kx.
6.    Dapat memberikan diet yang sesuai dengan penyakit dan kondisi kx.

E.    Implementasi
Tahap pelaksanaan ini dilakukan berdasarkan dengan rencana tindakan yang telah dilakukan pada tahap pengkajian, juga pelaksanaan tindakan keperawatan disesuaikan dengan kondisi klien. (Nasrul Efendi, 1995).

F.    Evaluasi
Evaluasi adalah langkah terakhir dalam proses keperawatan dan hasil akhir dari evaluasi dapat berhasil secara keseluruhan atau tidak berhasil bahkan dapat timbul masalah baru. (H. Lismidar, 1989).

http://mydocumentku.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan_4467.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar